Madrasah Aliyah Nurussyahid (MANUSA) adalah Sekolah Menengah Atas Setingkat SMA/SMK, Yang berdiri 2013 dengan Unggulan Magang dan Mahir Bahasa Jepang


Niat yang baik akan menghasilkan prasangka yang baik, Prasangka yang baik akan menghasilkan Aqidah yang baik dan Aqidah yang baik akan menghasilkan Akhir yang baik (Khusnul Khotimah). Hidup ini adalah Perjuangan, perjuangan perlu pengorbanan, pengorbanan perlu kecintaan, kecintaan perlu kesungguhan dalam Do'a dan Ikhtiar yang seimbang. kecintaan perlu keikhlasan dan keikhlasan perlu kesabaran, maka Allah berfirman Jadikan Sabar dan Sholat sebagai penolongmu melalui petunjuk sang Guru Mursyid.

2022/04/14

MENGENAL LEBIH DEKAT MANAQIB/ BIOGRAFI SYEIKH ABDUL QADIR JAELANI, RA

 

 

BIOGRAFI SYEIKH ABDUL QADIR JAELANI, RA

Transliterasi

Nama Abdul Qadir Jaelani juga dilafalkan Abdulqadir Gaylani, Abdelkader, Abdul Qadir, Abdul Khadir - Jilani, Jeelani, Gailani, Gillani, Gilani, Al Gilani, Keilany.

Genealogi

Ibnul Imad menyebutkan bahwa nama lengkap syekh ini adalah Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailany.

Telah tersedia dua riwayat sehubungan dengan tanggal lahir al-Ghauts al_A'zham Syekh Abdul Qodir al-Jilani Amoli. Riwayat pertama yaitu bahwa dia lahir pada 1 Ramadhan 470 H. Riwayat kedua mencetuskan Dia lahir pada 2 Ramadhan 470 H. Tampaknya riwayat kedua semakin dipercaya oleh ulama. Silsilah Syekh Abdul Qodir bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha, melewati ayahnya sepanjang 14 generasi dan melaui ibunya sepanjang 12 generasi. Syekh Sayyid Abdurrahman Jami memberikan komentar tentang asal usul al-Ghauts al-A'zham sebagi berikut: "Dia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A'zham. Dia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu". Silsilah Keluarganya adalah Sebagai berikut: Dari Ayahnya(Hasani):

Syeh Abdul Qodir bin Abu Shalih bin Abu Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad Al Agung bin Dawud bin Musa At-tsani bin Abdullah Tsani bin Musa al-Jaun bin Abdullah Mahdhi bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam

Dari ibunya(Husaini): Syeh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah 'Atha bin Mahmud bin Kamaluddin Isa bin Abi Jamaluddin bin Abdullah Sami' Az-Zahid bin Abu Ala'uddin (ﻋﻼﺀﺍﻟﺪﻳﻦﺍﻟﺠﻭﺍﺩ) bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal 'Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam

Biografi

Masa Muda

  • Dalam usia 8 tahun dia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima berupaya bisa di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al Ghazali. Di Baghdad dia berupaya bisa untuk beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein al Farra' dan juga Abu Sa'ad al Muharrimiseim. Dia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut sampai dapat menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan argumen para ulama. Dengan kemampuan itu, Abu Sa'ad al Mukharrimi yang membangun sekolah kecil-kecilan di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan sekolah itu sepenuhnya untuk Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Dia mengelola sekolah ini dengan sungguh-sungguh. Bermukim di sana sambil memberikan nasihat untuk orang-orang di sekitar sekolah tersebut. Banyak orang yang bertaubat setelah mendengar nasihat dia. Banyak pula orang yang bersimpati untuk dia, lalu datang menimba ilmu di sekolah dia sampai sekolah itu tidak dapat menampung lagi.

Murid

Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam, Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.

Perkataan Ulama tentangnya

Syeikh Ibnu Qudamah sempat tinggal bersama dia selama satu bulan sembilan hari. Kesempatan ini digunakan sebagai berupaya bisa untuk Syeikh Abdul Qadir al Jailani sampai dia berpulang.

Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Kami sempat berjumpa dengan dia di akhir masa kehidupannya. Dia meletak kami di sekolahnya. Dia sangat perhatian terhadap kami. Kadang dia mengutus putra dia yang bernama Yahya sebagai menyalakan lampu buat kami. Dia senantiasa menjadi imam dalam salat fardhu."

Karya

Imam Ibnu Rajab juga bicara, "Syeikh Abdul Qadir al Jailani Rahimahullah mempunyai pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma'rifat yang sesuai dengan sunnah."

Karya karyanya  :

1.     Tafsir Al Jilani

2.     al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,

3.     Futuhul Ghaib.

4.     Al-Fath ar-Rabbani

5.     Jala' al-Khawathir

6.     Sirr al-Asrar

7.     Asror Al Asror

8.     Malfuzhat

9.     Khamsata "Asyara Maktuban

10.         Ar Rasael

11.         Ad Diwaan

12.         Sholawat wal Aurod

13.         Yawaqitul Hikam

14.         Jalaa al khotir

15.         Amrul muhkam

16.         Usul as Sabaa

17.         Mukhtasar ulumuddin

Murid-muridnya mengumpulkan ihwal yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelis dia. Dalam masalah-masalah sifat, takdir dan lainnya, dia berpegang dengan sunnah. Dia membantah dengan keras terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah.

Awal Kemasyhuran

Al-Jaba'i bicara bahwa Syeikh Abdul Qadir pernah bicara untuknya, "Tidur dan wujudku sudah diatur. Pada suatu masa dalam dadaku timbul keinginan yang kuat sebagai bicara. Begitu kuatnya sampai saya merasa tercekik bila tidak bicara. Dan ketika bicara, saya tidak dapat menghentikannya. Pada masa itu telah tersedia dua atau tiga orang yang mendengarkan perkataanku. Kemudian mereka mengabarkan apa yang saya ucapkan untuk orang-orang, dan merekapun berduyun-duyun mendatangiku di masjid Bab Al-Halbah. Karena tidak memungkinkan lagi, saya dialihkan ke tengah kota dan dikelilingi dengan lampu. Orang-orang tetap datang di malam hari dengan membawa lilin dan obor sampai memenuhi tempat tersebut. Kemudian, saya dibawa ke luar kota dan diletakkan di sebuah mushalla. Namun, orang-orang tetap datang untukku, dengan mengemudikan kuda, unta bahkan keledai dan menguasai tempat di sekelilingku. Masa itu telah tersedia sekitar 70 orang para wali radhiallahu 'anhum.

Dalam beberapa manuskrip didapatkan bahwa Syeikh Abdul Qadir bicara, "Sebuah suara bicara untukku masa saya telah tersedia di pengasingan diri, "kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang". Saya pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak saya sukai dan karena itulah saya tidak sah mengikuti mereka". "Sesungguhnya" kata suara tersebut, "Mereka akan memperoleh ciri utama dari keberadaan dirimu". "Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku" tanyaku. "Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan memperoleh keselamatan agamamu" jawab suara itu.

Saya pun membuat 70 perjanjian dengan Allah. Di selanya adalah tidak telah tersedia seorang pun yang menentangku dan tidak telah tersedia seorang muridku yang meninggal kecuali dalam situasi bertaubat. Setelah itu, saya kembali ke Baghdad dan mulai berceramah.

Hubungan Guru & Murid

1. Syeikh Abdul Qadir bicara, "Seorang Syeikh tidak dapat dituturkan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini sudah mendarah daging dalam dirinya.

2.   Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).

3.     Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut.

4.     Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.

5.     Dua karakter dari Umar yaitu amar ma'ruf nahi munkar.

6.  Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan wujud (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.

7.   Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.

Masih berkenaan dengan pembicaraan di atas dalam bait syair yang dinisbatkan untuknya dikatakan: Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeikh maka dia adalah Dajjal yang mengajak untuk kesesatan.

Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat zhahir, mencari ilmu hakikah dari sumbernya, hormat dan ramah untuk tamu, lemah lembut untuk si miskin, mengawasi para muridnya sedang dia selalu merasa diamankan oleh Allah.

Syeikh Abdul Qadir juga mencetuskan bahwa Syeikh al Junaid mengajarkan standar al Quran dan Sunnah untuk kita sebagai menilai seorang syeikh. Apabila dia tidak hafal al Quran, tidak menulis dan menghafal Hadits, dia tidak pantas sebagai didampingi.

Syeikh Abdul Qadir bicara, "Kalimat tauhid akan sulit telah tersedia pada seorang individu yang belum di talqin dengan zikir bersilsilah untuk Rasullullah oleh mursyidnya masa menghadapi sakaratul maut".

Karena itulah Syeikh Abdul Qadir selalu mengulang-ulang syair yang berbunyi: Wahai yang enak diulang dan dinyatakan (kalimat tauhid) jangan engkau lupakan saya masa perpisahan (maut).

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat lapang. Selama 25 tahun Syeikh Abdul Qadir menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akibatnya dikenal oleh alam sebagai tokoh sufi agung alam Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baghdad bangunan sejak 521 H sampai wafatnya pada tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Kontroversi

al-Muqri' Abul Hasan asy-Syathnufi

Syeikh Abdul Qadir al Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh para syeikh, ulama, dan pandai zuhud. Dia banyak mempunyai keutamaan dan karamah. Tetapi, telah tersedia seorang yang bernama al-Muqri' Abul Hasan asy-Syathnufi al-Mishri (nama lengkapnya adalah Ali bin Yusuf bin Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab. Judul asli Kiab itu cukup panjang, yaitu Bahjatu Al-Asraar wa Ma’dinu Al-Anwar fi Ba’di Manaqib Al-Quthb Ar-Rabbani Abdul Qadir jailani.

Al Muqri' lahir di Kairo tahun 640 H, meninggal tahun 713 H. Dia dituduh berdusta dan tidak bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir al Jailani. Dia sudah menulis perkara-perkara yang aneh dan agung (kebohongannya).

Imam Adz-Dzahabi

Sam'ani bicara, "Syeikh Abdul Qadir Al Jailani adalah penduduk kota Jailan. Dia seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru agung madzhab ini pada masa hidup dia." Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A'lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut, "Semakin dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan semakin dari seratus ribu orang sudah bertaubat."

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir yang aneh-aneh sehingga memberikan bekas seakan-akan dia mengetahui hal-hal yang ghaib. Kemudian mengakhiri perkataan, "Intinya Syeikh Abdul Qadir mempunyai letak yang agung, tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap beberapa perkataannya dan Allah menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman). Namun beberapa perkataannya merupakan kedustaan atas namanya." Imam Adz Dzahabi juga bicara, " Tidak telah tersedia seorangpun para kibar masyayikh yang riwayat hidup dan karamahnya banyakan kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di sela riwayat-riwayat itu yang tidak telah tersedia bahkan telah tersedia yang mustahil terjadi".

Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali bicara dalam kitabnya, Al Haddul Fashil,hal.136, "Saya sudah memperoleh aqidahnya di dalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. (Lihat kitab Al-Ghunyah I/83-94) Maka saya mengetahui bahwa dia sebagai seorang Salafi. Dia menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Dia juga membantah kelompok-kelompok Syi'ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kumpulan lainnya dengan manhaj Salaf."

Ibnu Rajab Al-Hambali

Dalam mengomentari kitab kontroversial di atas, Ibnu Rajab Al-Hambali menegaskan: "Cukuplah seorang itu berdusta, bila dia menceritakan yang dia dengar", demikian kata Imam Ibnu Rajab. "Saya sudah melihat beberapa kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram sebagai berpegang dengannya, sehingga saya tidak meriwayatkan apa yang telah tersedia di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang sudah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak mengandung riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan ikhtiar, kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang sudah mati, dsb-nya. Semua itu tidak pantas dinisbatkan untuk Syeikh Abdul Qadir al Jailani rahimahullah."

Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal Ja'far al Adfwi (nama lengkapnya Ja'far bin Tsa'lab bin Ja'far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab Syafi'i. Dia dilahirkan pada menengah bulan Sya'ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi dia dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al Kamal menyebutkan bahwa asy-Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.

 

9 Karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani

1. Menghidupkan Orang Mati

Karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani menghidupkan orang mati terdapat dalam kitab Manaqib Jawahirul Ma’ani.

Hal ini bermula dar perdebatan antara orang Nasrani dan orang Islam soal keagungan Nabi Muhammad saw. dengan nabi Isa a.s.

Menurut orang Nasrani itu, Nabi Isa bisa menghidupkan orang yang telah mati.

Syekh Abdul Qodir Jaelani pun mengatakan kalau dia bisa menghidupkan orang mati meskipun bukan seorang nabi.

Suatu saat, di hadapan orang Nasrani itu, dia membelah kuburan dan menghidupkan orang mati.

Seketika, orang Nasrani itu takjub dan memutuskan jadi mualaf.

2. Buah Apel yang Jatuh dari Langit

Melansir sindonews.com, salah satu karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani diceritakan Abdullah al-Mashalli.

Hal ini bermula ketika al-Mustanjid seorang khalifah Abasiyah datang ke rumah Abdul Qodir Jaelani untuk meminta nasihat.

Dia juga meminta buah apel langka di tanah Irak untuk menentramkan hatinya.

Melalui tangan Abdul Qodir Jaelani, apel itu jatuh dari langit ketika dia menengadahkan tangannya ke langit dan memohon pada Allah Swt.

Hanya saja, apel untuk khalifah tercium bau busuk banyak ulat saat dikupas, sedangkan untuk Abdul Qodir Jaelani berorama harum dan manis.

Rupanya, bau busuk itu muncul karena dijamah oeh tangan seorang zalim, sedangkan harum karena dari tangan seorang wali Allah.

3. Menghidupkan Hewan yang Mati

Karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani adalah menghidupkan hewan yang mati.

Hal ini terdapat pada kitab Jamiu Karamat al-Auliya ketika seekor burung tiba-tiba mati karena kotorannya terkena jubah sang wali saat berwudu.

Melihat itu, Abdul Qodir Jaelani membersihkan jubah dan memberikannya pada fakir miskin sebagai tebusan burung yang mati.

Dia juga menghidupkan burung dan ayam yang sudah mati dengan karomahnya.

Salah satunya adalah menyambungkan kepala burung yang sudah terputus.

4. Menaklukkan Musuh dari Jauh

Dalam buku Jawahir al-Asani ‘Ala Lujjain al-Dani, karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani adalah menaklukan musuh dari jauh.

Syekh Abdul Qodir Jaelani disebut mempunyai kekuatan tersebut dengan kekuatan batinnya yang bisa menangkap seorang dari jauh.

Kesaktian Syekh Abdul Qodir Jaelani tersebut memang sulit untuk dipercaya, Sahabat 99!

5. Terbang ke Udara

Karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani yang sulit dipercaya adalah terbang ke udara.

Melansir hidayahilahi.com, dia mampu melayang-layang di udara tersebut.

Tak cuma itu, dia juga berdakwah sambil terbang ke angkasa.

6. Membuat Bangsa Jin Takluk

Karomah lain yang ada pada Abdul Qodir Jaelani adalah mengajari ilmu agama Islam pada jin jahat.

Hal ini bermula ketika wali asal Iran itu diikuti jin saat berada di sebuah padang pasir tandus.

Alih-alih takut pada jin tersebut, Syekh Abdul Qodir Jaelani mampu mengajari ilmu agama pada jin jahat tersebut.

Keagungan ulama Syekh Abdul Qodir Jaelani membuat bangsa jin takluk padanya.

7. Berjalan Kilat

Konon, Syekh Abdul Qodir Jaelani juga bisa berjalan dengan kilat.

Karomah yang satu ini memang sulit diterima akal manusia, namun kabarnya terjadi pada sang wali.

Hal tersebut terjadi saat Syekh Abdul Qodir Jaelani melakukan perjalanan panjang hanya dengan waktu satu jam.

Padahal, perjalanan tersebut umumnya ditempuh selama dua belas hari.

8. Berada di Banyak Tempat dalam Waktu Bersamaan

Melansir fiqihmuslim.com, karomah Abdul Qodir Jaelani ini terkenal di kalangan masyarakat muslim Iran.

Syekh Abdul Qodir Jaelani mampu berada di banyak tempat dalam waktu bersamaan, Hal ini bermula ketika dia diundang berbuka puasa oleh 70 muridnya di rumahnya masing-masing. Tidak ada yang mengetahui pada waktu yang sama, Syekh Abdul Qodir Jaelani ada di antara mereka dalam waktu bersamaan.

9. Menghentikan Hujan

Syekh Abdul Qodir Jaelani juga mammpu menghentikan hujan saat berceramah.

Menurut Syekh ALi bin Musafir, ini bermula saat orang-orang meninggalkan majelis ketika hujan turun lebat.

Namun, dengan karomah Abdul Qodir Jaelani, hujan lebat itu berhenti saat dia menengadahkan tangan dan kepalanya seraya berdoa.

Dari Berbagai Sumber

Share:

MENGENAL LEBIH DEKAT MANAQIB/ BIOGRAFI SYEIKH ABU HASAN ASY-SYADZULI, RA

 

SYEIKH ABU HASAN ASY-SYADZULI, RA 

BIOGRAFI SYEIKH ABU HASAN ASY-SYADZULI, RA 

Riwayat Hidup dan Keluarga

Lahir
Abul Hasan Syadzili  dilahirkan di desah Ghamarah, Maroko, pada tahun 593 H. Nama kecil Syeh Abul Hasan Asy Syadzili adalah Ali, gelarnya merupakan Taqiyuddin, nama populernya merupakan Asy Syadzili.  Beliau tinggal di desa Syadzilah. Oleh karena itu, namanya dinisbatkan kepada desa tersebut walaupun ia tidak berasal dari desa tersebut.

Nasab
Abu Hasan Asy-Syadzili: Abul Hasan, bin Abdullah Abdul Jabbar, bin Tamim, bin Hurmuz, bin Hatim, bin Qushay, bin Yusuf, bin Yusya', bin Ward, bin Baththal, bin Ahmad, bin Muhammad, bin Isa, bin Muhammad, bin Hasan, bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah binti Rasulullah SAW.

Wafat

Beliau wafat saat hendak berangkat menunaikan ibadah haji bulan Dulqa'dah tahun 656 H dimakamkan di Mesir, yaitu di daerah Humaitsara dekat pantai Laut Merah.

Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

Mengembara Menuntut Ilmu

Imam Abul Hasan Asy-Syadzili menghafal Al-Qur'an dan mulai mempelajari ilmu syari'at. Kemudian dia pergi ke Kota Tunis ketika masih sangat muda.

Beliau masuk ke Tunisia jalan menuju ke Baitul Haram, setelah itu beliau menuju Irak di Kota Baghdad bertemu dengan beberapa 'ulama tasawuf, dan beliau bertanya tentang seorang qutub. Yaitu manusia yang mengumpulkan semua keutamaan dalam kedekatannya dengan Allah subhaanahu wa ta'aalaa. Ini adalah seorang wali yang memiliki keilmuan besar, serta memiliki kedudukan yang amat besar yang dipandang oleh Allah di setiap zaman.

Ketika masuk ke Irak beliau bertanya tentang seorang wali Qutub yaitu Abdul Fath al-Watsi. Beliau bertemu dengan syeikh tersebut. Namun Imam Abul Hasan asy-Syadzili disarankan kembali ke negerinya. Akhirnya beliau kembali ke negerinya dan menemukan seorang wali Qutub bernama Syeikh Abdussalam Ibnu Masyis. Beliau seorang Syarif (keturunan Rasulullah SAW ). Beliau terkenal dengan Shalawat Masyis.

Syekh Abdussalam Ibnu Masyis makamnya ada di Maroko. Saat beliau mendatangi Syekh Abdussalam yang tempat tinggalnya di gunung beliau melepaskan semua ilmunya karena ingin mendapatkan ilmu dari syeikhnya.

Sang Syeikh mengatakan Marhaban dan beliau sebut nasabnya sampai ke Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Wahai Ali (Imam abul Hasan asy-Syadzili), kamu datang dalam keadaan faqir kepada saya dan kamu akan mengambil kekayaan dunia dan akhirat.

Di antara guru-guru Imam Syadzili, Ibn Masyis-lah yang sangat mempengaruhi perjalanan spiritual dan kehidupannya. Atas nasihatnya pula Imam Syadzili meninggalkan Fez menuju Tunisia dan tinggal di sebuah daerah bernama Syadzili.

Di daerah yang baru ini, beliau banyak bertemu dan bertukar pikiran dengan para ulama dan para sufi. Dan tanpa diduga, masyarakat menyambutnya dengan sambutan yang luar biasa. Namun kemudian Imam Syadzili pergi ke pegunungan Zaghwan dengan ditemani oleh ‘Abdullah ibn Salamah al-Habibi dan berkhalwat di sana.

Setelah melakukan khalwat di Jabal Zaghwan itu, beliau mendapat perintah dalam sebuah penglihatan spiritual untuk mengajarkan tasawuf. beliau kemudian kembali lagi ke masyarakat dan menyampaikan dakwahnya.

Imam  Abul Hasan Syadzili membangun sebuah Zawiyah di Tunisia pada 625 H, bersamaan dengan tibanya Abu Zakaria di tempat itu sebagai gubernur baru dan kelak sebagai pendiri Dinasti Hafsiyyah. Secara periodik dia memberikan ceramah ke desa-desa di daerah Tunisia. Di sini beliau mendapat sambutan yang cukup hangat sampai menimbulkan kebencian seorang hakim Tunisia; Abu al-Barra.

Akibat konflik yang berkepanjangan dengannya, Imam  Abul Hasan Syadzili memutuskan untuk meninggalkan Tunisia menuju Mesir. Di Mesir inilah Tarekat syadziliyah mulai berkembang pesat hingga ke berbagai penjuru bumi. Dan di Mesir pulalah Imam  Abul Hasan Syadzili dimakamkan, yaitu di daerah Humaitsara dekat pantai Laut Merah dalam perjalanannya untuk ibadah haji yang terakhir kalinya.

Beberapa hari beliau tinggal bersama Syeikh Abdussalam Ibnu Masyis melihat beberapa karamah. Lalu Imam Abul Hasan asy-Syadzili disarankan gurunya untuk pergi ke Afrika di suatu tempat namanya Syadzilah karena Allah akan menamaimu dengan nama Syadzili. 

Kemudian beliau masuk ke Tunisia belajar bersama gurunya dan selepas gurunya wafat Imam  Abul Hasan Syadzili pergi ke suatu tempat yang menjadi tempat khalwatnya di gunung. Beliau mendapat isyarat dari Allah untuk turun bercampur dengan manusia. "Ya Allah, bagaimana aku bisa bercampur dengan manusia? Aku yang akan melindungimu," demikian isyarat yang diterimanya dari Allah.

Ketika Imam  Abul Hasan Syadzili turun bercampur dengan manusia beliau mendapat fitnah oleh Abdul Mubarak karena mendengar kata-kata buruk tentang tasawuf . Kemudian beliau berhaji, sebelum ke berhaji masuk ke Mesir. Gurunya dulu bilang kamu nanti akan pergi ke Afrika dan kamu akan diuji.

Beliau masuk ke Tunisia sebelum ke Mesir bersama murid-muridnya termasuk Imam Abul Abbas al-Mursyi yang menjadi khalifah beliau. Ketika memasuki Askandaria, ada Sultan yang menahan para ulama sufi karena fitnah. Beliau pun difitnah dan harus ditahan. Beliau mendapat surat penahanan itu. Imam Abul Hasan asy-Syadzili mengatakan "orang yang kamu tahan dalam lindungan Allah Ta'ala". Benar saja, ketika beliau meninggalkan Sultan itu 20 langkah, sultan itu tidak bisa bergerak dan berbicara.

Setelah itu banyak orang mencari beliau agar memaafkan Sultan. Lalu beliau memaafkan Sultan itu dan akhirnya Sultan itu bisa bergerak dan berbicara. Kemudian beliau berhaji. Sesudah pulang haji kembali ke Tunisia. Beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan beliau berkata bahwa wahai Ali, pergilah ke Mesir karena engkau akan mendidik 40 orang yang jujur.

Lalu beliau mulai mengajar dan dihadiri para ulama, bahkan orang yang dulu mengkritik beliau pun mengikuti majelisnya. Beliau berhaji berkali-kali tapi selang seling setahun haji, setahun enggak. Beliau pada tahun itu berazam buat haji dan meminta murid-muridnya membawa perlengkapan dan kain kafan, lalu ia mengatakan pada muridnya kamu akan tahu nanti apa yang terjadi.

"Maka kalau sama guru tasawuf jangan banyak bertanya. Apapun yang diperintahkan kita patuh aja," kata Syeikh Ahmad Al-Misri.

Imam Abul Hasan asy-Syadzili meminta dibawakan kain kafan dan memberi muridnya nasehat untuk jangan lupa membaca Hizib Bahar. Kemudian beliau memanggil murid khususnya yaitu Imam Abul Abbas Al-Mursyi, lalu diturunkan ilmunya. Lalu beliau kembali mengumpulkan muridnya dan berkata kalau aku meninggal malam ini, inilah khalifah saya, kalian kalau ada apa-apa bertanya ke beliau.

Guru-Guru Beliau

Menimba ilmu hadits dan meriwayatkan dari: 

  1. Abu Al Fath Al Wasithi
  2. Abdul Salam bin Masyis
  3. Syeikh Najmudin Al Ash Fahani

Penerus Beliau

Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti:

  1. Syeikh Kabir Abul Abbas Ahmad Al Mursyi Al Anshari   
  2. Ash Shqli
  3. Muhammad Al Qurtubi
  4. Abu Hasan Al biya'i
  5. Abu Abdillah Al Biya'i
  6. Al Wajahani
  7. Al Jazar Makinuddin
  8. Al Asmar
  9. Al Bumi
  10. Al Laqani
  11. Syeikh Jibril

Karya

Karya-karya Beliau

Secara pribadi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasawuf, begitu juga muridnya, Syekh Abul Abbas al-Mursi, kecuali hanya sebagai ajaran lisan tasawuf, doa, dan hizib. Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari atau nama lengkapnya Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari]] (658 - 709 H ) adalah orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khasanah tareqat Syadziliyah tetap terpelihara. Ibnu Atha'illah juga orang yang pertama kali menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tareqat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya.

Melalui sirkulasi karya-karya Ibnu Atha'illah, tareqat Syadziliyah mulai tersebar sampai ke Maghrib, sebuah negara yang pernah menolak sang guru. Tetapi ia tetap merupakan tradisi individualistik, hampir-hampir mati, meskipun tema ini tidak dipakai, yang menitik beratkan pengembangan sisi dalam. Syadzili sendiri tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan tidak satupun yang berbentuk kesalehan populer yang digalakkan. Namun, bagi murid-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan Tareqat Syadziliyah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan satu dengan yang lain.

Sebagai ajaran Tareqat ini dipengaruhi oleh Al-Ghazali dan Abu Talib al-Makki atau al-Makki. Salah satu perkataan as-Syadzili kepada murid-muridnya: "Seandainya kalian mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid Al-Ghazali". Perkataan yang lainnya: "Kitab Ihya' Ulum ad-Din, karya Al-Ghazali, mewarisi anda ilmu. Sementara Kitab Qut al-Qulub, karya Abu Talib al-Makki, mewarisi anda cahaya." Selain kedua kitab tersebut, as-Muhasibi, Khatam al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi 'Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atha'illah.

Hizb al-Bahr, Hizb Nashor, Hizb Barr disamping Hizib al-Hafidzah, merupakan Hizib-Hizib yang terkenal dari as-Syadzilli. 

Hizib-hizib dalam Tareqat Syadzilliyah, di Indonesia, juga dipergunakan oleh anggota tareqat lain untuk memohon perlindungan tambahan (Istighotsah), dan berbagai kekuatan hikmah, seperti debus di Pandegelang, yang dikaitkan dengan tareqat Rifa'iyah, dan di Banten utara yang dihubungkan dengan tareqat Qadiriyah. Akan tetapi yang utama adalah Hizb tersebut dipergunakan untuk meningkatkan kadar ibadah yang sebenarnya kepada Allah.

Para ahli mengatakan bahwa hizib, bukanlah doa yang sederhana, ia bukan hanya merupakan mantra megis yang Nama-nama Allah Yang Agung (Ism Allah A'zhim) dan, apabila dilantunkan secara benar, akan mengalirkan berkah dan menjamin respon supra natural dan yang terpenting adalah mendapatkan ridha Allah. Menyangkut pemakaian hizib, wirid, dana doa, para syekh tareqat biasanya tidak keberatan bila doa-doa, hizib-hizib (Azhab), dan wirid-wirid dalam tareqat dipelajari oleh setiap muslim untuk tujuan personalnya. Akan tetapi mereka tidak menyetujui murid-murid mereka mengamalkannya tanpa berlandaskan Al-Qur'an dan tuntunan Rasululloh SAW, sebab murid tersebut sedang mengikuti suatu pelatihan dari sang guru untuk dapat beribadah kepada Allah dengan benar.

Yang menarik dari filosufi Tasawuf Asy-Syadzily, justru kandungan makna hakiki dari Hizib-hizib itu, memberikan tekanan simbolik akan ajaran utama dari Tasawuf atau Tharekat Syadziliyah. Jadi tidak sekadar doa belaka, melainkan juga mengandung doktrin tingkah laku islami, pemahaman, adab hati, penyaksian, pembuktian yang sangat dahsyat yang semuanya bersumber dari Nabi Muhammad 

 

Tarekat Syadziliyah

Tarekat Syadziliyah dinisbatkan kepada Abu Hasan al-Syâdzilî (w. 656H/1258 M) sebagai pendirinya, Tarekat ini cukup dikenal dengan hizbnya. Beliau adalah salah satu tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf searah dengan alGhazali, yakni pelaksanaan tasawuf yang tetap memegang teguh syariat yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah, mengarah pada asketisme, pelurusan dan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) dan pembinaan moral (akhlaq). Tarekat ini dinilai oleh kebanyakan kalangan bersifat moderat dan menawarkan konsep zuhud (al-zuhd) yang lebih moderat.

Imam  Abul Hasan Syadzili tidak menganjurkan pada murid-muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka. Mereka tidak harus hidup menyendiri dan bahkan dianjurkan untuk merealisasikan ajaran tarekat dalam masyarakat di tengah-tengah kesibukan mereka. Bertarekat itu tidak berarti menghalangi upayaupaya modernisasi. Konon, tarekat ini banyak digemari oleh kalangan usahawan-usahawan berduit dan berdasi, yang merasa pas dengan ajarannya dan tertarik menjadi pengikut Tarekat Syadziliyah.

Imam  Abul Hasan Syadzili senantiasa mengajarkan kepada pengikutnya agar menggunakan nikmat Allah secukupnya baik dalam hal pakaian, makanan, kendaraan, yang layak dalam kehidupan yang sederhana. Hal demikian akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT dan mengenal rahmat Ilahi.

Meninggalkan dunia yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur dan berlebih-lebihan memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezhaliman. Manusia sebaiknya menggunakan nikmat Allah SWT, sebaik-baiknya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Al-Syâdzilî berusaha merespon apa yang sedang mengancam kehidupan umat Islam saat itu, seperti apa yang dirisaukan oleh para modernis-rasionalis sekarang. Dia berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami oleh banyak orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi, dengan sikap pasif yang banyak dialami para salik. Dia menawarkan tasawuf yang ideal dalam arti bahwa di samping berupaya mencapai makrifat, juga harus beraktivitas dalam realitas sosial di „bumi’ ini. Seperti yang dikatakan al-Syâdzilî bahwa seorang sufi tidak hanya beribadah tetapi juga harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmaniahnya.

Di samping itu tarekat ini mempunyai lima prinsip dasar yang harus menjadi ciri sikap dan tingkah laku setiap pengikutnya. Lima prinsip ini, yakni:

  1. bertaqwa kepada Allah, baik dalam keadaan sunyi maupun dalam keadaanramai.
  2. mengikuti sunnah Rasulullah
  3. berkhalwat
  4. ridha kepada Allah
  5. senantiasa mengingat Allah baik dalam keadaan lapang maupun sulit.

Ajaran Imam  Abul Hasan Syadzili ini kemudian diteruskan oleh muridnya Abû Άbbâs alMursî (w. 686 H.), kemudian diteruskan oleh Ibn Athâillâh al-Iskandari (w. 709H.).

Tarekat Syadziliyah, berkembang pesat di beberapa wilayah seperti Tunisia, Mesir, Aljazair, Sudan, Syria dan Indonesia khususnya di Jawa. Tarekat Syadziliyah memulai keberadaannya di bawah salah satu dinasti al-Muwahhidun, yakni Hafsiyyah di Tunisia. Tarekat ini kemudian berkembang dan tumbuh subur di Mesir dan Timur dekat di bawah kekuasaan dinasti Mamluk.

Imam  Abul Hasan Syadzili tidak meninggalkan karya berupa buku maupun risalah tasawuf, tetapi menyusun rangkaian doa yang berasal dari pengalaman mistis (hizb) yang memuat formula ayat al-Qur’an dan juga inspirasi khas tasawuf. Kumpulan doa ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Dunia Islam. Rangkaian doa ini memiliki nama yang diberikan olehnya sendiri (Imam  Abul Hasan Syadzili) ataupun oleh orang lain, seperti hizb al-bahr, hizb al-nashr, hizb al-barr atau al-kabir dan lain-lain.

Saat ini dapat dijumpai bahwa di banyak pesantren di Indonesia diajarkan hizb al-Syadzili itu. Dikatakan bahwa doa-doa tersebut sangat makbul dan Syeikh Abu Hasan al-Syadzili mengakui bahwa dirinya menerima langsung dari lisan Nabi dalam penglihatan spiritual.

 

Karomah

Menurut Aqidah Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa para wali memiliki keistimewaan atau kemuliaan (karamah) di dunia adalah suatu kenyataan (Haq).

Berikut ini adalah karamah-karamah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili:

1. Mengerti Isi Hati Seseorang

Di dalam kitab Jami’ul Karomatil Auliya’ karya Al Allamah Syekh Yusuf bin Ismail Nabhani menceritakan;

Suatu ketika Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili menerangkan sebuah arti zuhud dalam sebuah majelis rutin pengajiannya, sementara ada pengikut yang hadir dengan pakaian yang jelek dan kumal, sehingga terbersit ucapan dalam hati si fakir miskin itu: “pakaian Syekh Abul Hasan bagus dan rapi, bagaimana mungkin berbicara tentang zuhud dari dunia, bukan beliau Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili”

Tiba-tiba Syekh Abul Hasan menoleh kepada si fakir miskin itu sekan mengetahui apa yang dikatakan dalam hati si fakir miskin itu seraya berkata: “Kamu bukanlah orang yang zuhud, pakaian yang kamu kenakan ada unsur kesenangan duniawi, karena kamu menggunakan pakaian pakaian itu dengan tujuan menarik orang di sekitarmu agar terkesan dirimu orang fakir dan sehingga di sangka wali Allah”.

Berbeda dengan aku memakai pakaian bagus dan rapih, maka orang beranggapan bahwa kau orang yang kaya raya dan bukan orang zuhud , juga bukan wali Allah.

Maka seketika si fakir miskin berdiri dan mendekati syekh Abul Hasan lalu berkata;

Wallahi… memang saya berkata, bahwa aku orang zuhud tetapi di dalam hati, sekarang aku bertaubat kepada Allah Swt dan maafkanlah saya wahai guru”

Mendengar pengakuan si fakir tersebut, Syekh Abul Hasan terharu kemudian ia memberikan kepadanya sebuah pakaian yang bagus dan baru. Lalu syaik Abul Hasan mendoakannya:

“Semoga Allah Swt memberikan kasih saying Nya kepadamu melalui hati orang-orang pilihan dan semoga hidupmu penuh barokah serta husnul khotimah di akhir hayatmu”.

2. Menjadi Wali Sejak Usia Enam Tahun

Menurut suatu riwayat bahwa Nabi Khidir as pernah datang kepada Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili untuk menetapkan “wilayatul adzimah” kepada beliau (menjadi seorang wali yang memiliki kedudukan tinggi) disaat beliau menginjak usia enam tahun.

3. Selalu Melihat Lailatul Qodar

Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili diberikan keanugerahan oleh Allah Swt selalu menjumpai turunnya Lailatul Qodar semenjak usia baligh hingga wafatnya. Seperti yang diterangkan dalam kitab Kasyful Asrar Li Tanwirul Afkar karya Mustafa bin Muhyiddin Asy-Syadzili, Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili berkata:

1. Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Ahad maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-29 bulan Ramadhan.

2. Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-21 bulan Ramadhan

3. Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Selasa maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-27 bulan Ramadhan

4. Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Rabu maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke19 bulan Ramadhan

5. Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-25 bulan Ramadhan

6. Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Jumat maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-17 bulan Ramadhan

7. Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-23 bulan Ramadhan.

Untaian Nasehat

Berikut nasehat-nasehat beliau:

  1. Bila kamu mendapat kesulitan dalam biaya penghidupan maka ketahiolah bahwa Allah ingin mencintaimu, maka bersikap tegarlah dan jangan merasa jengkel.
  2. Barangsiapa bersabar ats cobaan Allah, menjauhi kemaksiatan dan yakin akan janji dan ancaman Allah berarti ia adalah imam meskipun sedikit sekali pengikutnya.
  3. Tasawuf ibarat pelatihan diri untuk menghamba kepada Allah.
  4. Bila kamu ingin senantiasa berkata jujur, maka perbanyaklah membaca surat Al Qadar.
  5. Bila kamu ingin mendapat keikhlasan dalam setiap keadaanmu, maka perbanyaklah membaca surat Al Ikhlas 
  6. Bila kamu ingin kemudahan dalam rizki, maka perbanyaklah membaca surat Annas

Referensi

"Riwayat Hidup Para Wali dan Shalihin"

Penerbit: Cahaya Ilmu Publisher

 

Share:

Translate

RAPOT DIGITAL MADRASAH (RDM)

KALENDER MA NURUSSYAHID

Calendar Widget by CalendarLabs

NU ONLINE

NPSN MA NURUSSYAHID

WAWASAN KEISLAMAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA

LOKASI MA NURUSSYAHID


Foto Kepala MA Nurussyahid Kertajati dengan Gus Sauqi Putra Abah KH. Ma'ruf Amin (Wakil Presiden RI)

KEPALA MA BERSAMA PARA PURNAWIRAWAN TNI PADA ACARA MUNAJAT RAJAB

SANTRI MA NURUSSYAHID KERTAJATI PADA ACARA MUNAJAT RAJAB 1440 H

KUNJUNGAN SULTAN SEPUH KE YAYASAN