Madrasah Aliyah Nurussyahid (MANUSA) adalah Sekolah Menengah Atas Setingkat SMA/SMK, Yang berdiri 2013 dengan Unggulan Magang dan Mahir Bahasa Jepang


Niat yang baik akan menghasilkan prasangka yang baik, Prasangka yang baik akan menghasilkan Aqidah yang baik dan Aqidah yang baik akan menghasilkan Akhir yang baik (Khusnul Khotimah). Hidup ini adalah Perjuangan, perjuangan perlu pengorbanan, pengorbanan perlu kecintaan, kecintaan perlu kesungguhan dalam Do'a dan Ikhtiar yang seimbang. kecintaan perlu keikhlasan dan keikhlasan perlu kesabaran, maka Allah berfirman Jadikan Sabar dan Sholat sebagai penolongmu melalui petunjuk sang Guru Mursyid.

2019/11/20

Sejarah Mbah Buyut Kadong dan Mbah Buyut Dales Merupakan Latar Belakang Berdirinya Desa Biyawak Kecamatan Jatitujuh Majalengka


Juru Kunci Mbah Buyut Kadong dan Mbah Buyut Dales Desa Biyawak Jatitujuh
Bapak Syahid (Ranjang Panjang zaman dulu yang terbuat dari kayu jati dan sudah ratusan tahun masih tersimpan Rapih di Belakang Maqom Mbah Buyut Kadong dan Mnah Buyut Dales

Untuk mengenal lebih dekat Mbah Buyut Kadong dan Mbah Buyut Dales yang berlokasi di Desa Biyawak Kecamatan Kertajati tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu Sejarah Desa Biyawak, mengacu kepada cerita dari Juru Kunci dan mengacu kepada kepada situs 
https://www.historyofcirebon.id/2017/11/sejarah-desa-biyawak-jatitujuh.html 
Desa Biyawak adalah salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majelengka Jawa Barat.Desa Biyawak berbatasan dengan desa Bantarjati, tempat kelahiran Ki Bagus Rangin, seorang pahlawan nasional yang dikenal sangat gigih berani melawan kesewenang-wenangan penjajah Belanda.
Peserta Didik MA Nurussyahid Kertajati saat berziaroh ke Maqom Mbah Buyut Kadong dan Mbah Buyut Dales di Desa Biyawak 

Biyawak sebagai sebuah nama diperkirakan baru muncul pada tahun 1805 Masehi, dinamakan Biyawak bukan karena di Desa tersebut dahulunya banyak hewan Biyawak, nama Biyawak muncul berhubungan dengan peristiwa pemberontakan Ki Bagus Rangin, bahkan di tempat yang kini dinamai Biyawak itulah awal mula munculnya pemberontakan Ki Bagus Rangin.
Biyawak dahulunya lahan yang dihuni beberapa orang, wilayahnya masuk pada wilayah Bantarjati, kata "Biyawak" merupakan kependekan dari kata bahasa Cirebon “Biyaya Awak” yang maknanya berarti "biaya badan" atau juga bermakna “Pajak Perkepala”

Pada tahun 1602-799 Tanah pertikelir dimunculkan diwilayah Keresidenan Cirebon, hal tersebut berlanjut hingga  masa Daendels, Raffles, John Fendall, sampai pada masa Van der Capellen (1820). Pemilik tanah partekelir berhak memberlakukan berbagai macam pajak, termasuk bagi petani-petani yang mengelola tanah (Pusponegoro dan Notosusanto, 2008: 400).

Tanah partikelir adalah tanah milik pemerintah yang di kontrak oleh pengusaha, dengan kendali penuh pengelolaan ditangan pemilik/Pengusaha. Pada tahun 1602-1799 tanah-tanah pertekelir sudah digarap secara mandiri oleh petani-petani pribumi, namun karena pemerintah Belanda mengkalim bahwa tanah tersebut milik Negara maka kegiatan pertanian yang dilakukan oleh penduduk menjadi illegal jika pelaksanaanya tanpa seijin pemegang sewa dan pemerintah penjajah.



Pada waktu itu, tanah partikelir disewakan penjajah Belanda pada pengusaha Cina, dalam kebijakan pengelolaannya para pengusaha Cina memberlakukan sewa bagi siapa saja petani yang menggarap tanah partikelir, selain itu penggarap tanah parteklir juga dikenakan pajak perkepala, pajak perkepala imilah yang disebut orang Bantar Jati sebagai “Biyaya Awak”

Penderitaan kaum tani di wilayah Bantar Jati akibat diberlakukanya berbagai macam pajak membuat kehidupan mereka tambah miskin. Kemiskinan yang merajalela serta kesombongan para pengusaha Cina kemudian memantik pemberontakan.
Pemberontakan mula-mula diwujudkan dalam bentuk mogok bayar pajak kepada pengusaha Cina, kemudian peristiwa mogok pajak ini pada nantinya dilaporkan oleh pemilik tanah partekelir ke pemerintah penjajah Belanda, hingga akhirnya pemerintah penjajah turun tangan dan mengusir para petani ini dari wilayah tanah partikelir. 

Pengusiran dan kesewenang-wenangan pemerintah Pejajah Belanda yang dilakukan terhadap para petani kemudian dibalas dengan perlawanan, ribuan rakyat terutamanya kaum tani memberontak mereka membunuhi para pengusaha Cina, Pejabat Pribumi antek Pengusaha dan juga membunuhi tentara penjajah Belanda, pemberontakan kemudian di respon oleh Pemerintah Penjajah Belanda dengan senjata, hingga terjadilah peperangan besar. 

Perang semakin besar dan meluas karena perlawanan kaum tani  didukung oleh rakyat pribumi yang terdampak pajak perkepala, pemberontakan yang semula terjadi di wilayah bantar Jati kemudian meluas ke Indramayu dan Cirebon, lebih-lebih sebelum itu yaitu pada tahun 1802 Raja Kesultanan Kanoman diasingkan ke Ambon oleh Belanda karena membela rakyat dan kaum tani, sehingga kebencian rakyat pada Belanda semakin menjadi-jadi, Pemberontakan rakyat di wilayah Keresidenan Cirebon yang mencakup wilayah Majalengka, Indramayu dan Cirebon berlangsug lama lebih dari 15 tahun.

Wilayah atau tempat yang menjadi awal mula meletusnya pemberontakan yang dipimpin Ki Bagus Rangin itu kemudian dinamai “Biyawak” sebagai pengingat peristiwa pilu penderitaan rakyat akibat pajak perkepala yang diterapkan Penjajah Belanda melalui tuan tanah pemilik tanah partikelir. 

Meskipun nama Biyawak muncul bersamaan dengan peristiwa pemberontakan Bagus Rangin (1805-1818) akan tetapi Biyawak sebagai sebuah Pemerintahan Desa dan mempunyai kepala pemerintahan (Kuwu) diperkirakan baru terjadi pada tahun 1840 an, adapun Kuwu pertama yang menjabat adalah Kuwu Margahayu.
Berikut daftar para Kuwu yang pernah memerintah desa Biyawak menurut data yang diperoleh dari profil Desa Biyawak sampai kemarin hasil pemilihan Kepala Desa Serentak Gelombang III tanggal 2 Nopember 2019:

No.
Kuwu
Tahun  Pemerintahan
1
Margahayu
1840 – 1850
2
Ormat
1850 – 1880
3
Nurda
1880 – 1898
4
Surya
1898 – 1905
5
Endun
1905 – 1914
6
Muk
1914 – 1923
7
Rasji
1923 (Satu Hari)
8
Sarkani
1923 – 1958
9
Abasan Ropi
1958 – 1983
10
Risja
1983 – 1986
11
Koyim Sanadi
1987 – 1997
12
Sumaya
1998 – 2004
13
Ono
2007 – 2013
14
Hj. Jariah
2013 – 2019
15
Warjum S
2019 – Sekarang



Juga jika melihat dari sumber lain Sejarah Desa Biyawak Tidak terlepas dari adanya tokoh Mbah Buyut Kadong dan Mbah Buyut Dales sebagaiman tercatat di data Dinas Budpar Kabupaten Majalengka sebagai berikut: 

INILAH DATA PENINGGALAN SEJARAH DAN 
BENDA CAGAR BUDAYA DI KABUPATEN MAJALENGKA
1. Makam Girilawungan Kel Majalengka Wetan, Kec Majalengka
2. Patilasan Nyi Rambut Kasih Kel. Sindangkasih, Majalengka
3. Makam Pangeran Muhammad Kel. Cicurug- Majalengka
4. Makam Siti Armilah Belakang Pendopo Majalengka,
5. Makam Buyut Kyai Arsitem ( Pangeran Sukmajaya Diningrat) Desa Sumber Wetan, Jatitujuh
6. Sumur Sindu Desa Sumber Wetan, Kecamatan Jatitujuh
7. Makam Tubagus Rangin Desa Jatitujuh - Jatitujuh
8. Sumur Dalem Desa Pilangsari, Kecamatan jatitujuh
9. Buyut Karimpem Desa Babakanjurang, Kecamatan Jatitujuh
10. Buyut Kadong dan Mbah Buyut Dalaes Desa Biyawak, Kecamatan Jatitujuh
11. Buyut Jaya Kusumah Dusun Pandagan Jatitujuh
12. Buyut Hujung Desa Panyingkiran, Kecamatan Jatitujuh
13. Buyut Perdie Wesi Desa Randegan Wetan - Jatitujuh
14. Buyut Jago Desa Putri Dalem, Kecamatan Jatitujuh
15. Buyut Galudra Jaya Desa Karanganyar Kecamatan Dawuan
16. Buyut Situnggulung Desa Pasir Malati, Kec.Dawuan
17. Buyut Santeri Desa Balida, Kecamatan Dawuan
18. Buyut Randa Asih Desa Sinarjati, Kecamatan Dawuan
19. Buyut Campeka Desa Genteng, Kecamatan Dawuan
20. Buyut Bungkardi Desa Kasokandel, Kasokandel
21. Buyut Sindujayadi Desa Wanajaya, Kasokandel
22. Buyut Cidum Desa Bantarwaru, Kecamatan Ligung
23. Buyut Imbaraga Desa Kertasari, Kecamatan Ligung
24. Buyut Pelet Desa Beber, Kecamatan Ligung
25. Rumaha Adat Panjalin Desa Panjalin,- Sumberjaya
26. Makam Pangeran Sukmajati Desa Cikeusik Tengah, Sukahaji 
27. Makam Situs Sawala Desa Cipaku, Kecamatan Kadipaten
28. Makam Buyut Pintu Desa Leuwimunding, Leuwimunding
29. Patilasan Prabu Siliwangi. Desa Pajajar, Rajagaluh
30. Badak Dua Desa Payung Kecamatan Rajagaluh
31. Buyut Mansyur Desa Sadomas, Kecamatan Rajagaluh.
32. Situs Lalantang Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh.
33. Buyut Lukbar Desa Sukaraja Wetan, Kecamatan Jatiwangi
34. Makam Buyut Israh Desa Argamukti, Kecamatan Argapura
35. Makam Buyut Putri Desa Cibunut, Kecamatan Argapura
36. Makam Ki Samsul Kohal Desa Sagara, Argapura
37. Makam Buyut Panyakaran Desa Sukadana, Argapura
38. Makam Jaya Kusumah, Nyi Masri’ah, Kyai Suryadiningrat, Desa Gunungwangi,  
 Argapura Raden Tumenggung, Embah H. Muslim, dan Makam Embah Nabi Hideung 
39. Makam Waridah dan Makam Syekh Syarif Arifin Desa Sindangwangsa, Palasah
40. Makam Buyut Bagi Desa Cimanglid - Malausma 
41. Makam Eyang Panulisan, Makam Eyang Santri, 
dan Makam Eyang Bunigeulis Desa Gununglarang Bantarujeg
42. Makam Buyut Mintrik 
dan Makam Buyut Cikadu Desa Cikidang, Kecamtan Bantarujeg
43. Makam Nontoreng di Desa Sukamenak, Kecamatan Bantarujeg
44. Makam Buyut Konda dan Makam Rajabali Desa Kondang Mekar, Cingambul
45. Makam Raden Aria Saringsingan. Desa Maniis, Cingambul
46. Makam Eyang Natakusumah Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga
47. Makam Cupu Manik Astra Gina Desa Gunung Manik, Kecamatan Talaga
48. Makam Kyai Aria Batang Desa Lampuyang Astana Panjang, Talaga
49. Makam Sunan Kidul Desa Cikeusal Leumah Agung, Kecamatan Talaga
50. Makam Sunan Wanaperih Kabonwana. Desa Kagok, Banjaran
51. Makam Fakih Ibrahim. Desa Cimeong,- Banjaran
52. Situs Sangiang Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran
53. Situs Sangiang Lingga Desa Banjaran Sukamanah, Banjaran
54. Gong Besar, Gong Kecil, Rante Gong, Bareng Besar, Bareng Yang Rusak, Bareng Kecil, 
Batu Bandering, Baju Kere (Besi), Gondewa Kayu, Pahul Gondewa,  Tangkai Kolewang, Pedang Panjang Kecil,  Kujang, Keris, Badi, Badi Kecil Berlubang,  Tombak, Meriam Besar, Meriam Kecil, Kalantaka, Bedil, Bedil Pendek/Pistol, Bedil Kecil Kepala Naga,  Besi Pomotong, Talenan Batu, Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga Ukiran Kayu Siku-Siku, Kobokan Air,  Botol Gepeng, Guci Kecil, Genta,  Kendi Kecil, Arca Laki-Laki,  Arca Buda Perempuan, Uang Belanda,  Tempat Persegi Kecil, Gamelan Rentang,  Gembyog Ukir, Kain Sutera, Batu Bulat Besar Kecil. 
55. Rumah Adat Kasokandel Kecamatan Kasokandel 
56. Vihara Pemancar Keselamatan Majalengka
57. Vihara Darma Bakti Kecamatan Kadipaten
58. Dalem Cucuk Kecamatan Maja
59. Dalam Lumaju Kecamatan Maja
60. Makam Bagus Waridah Desa Sindangwasa, Kecamatan Palasah
61. Kursi Sumpah Kecamatan Kadipaten
62. Tumbak, Keris, Tongkat Rotan, Tongkat kayu, Bola Besi, Batok Bergengge, Halu, Piring Keramik, 15 Buah Menhir Desa Karangsambung Kadipaten.
(sumber Disporabudpar Kabupaten Majalengka)


Share:

2019/11/19

Bagaimana Sebaiknya Sikap Seorang Muslim Ketika sedang menghadapi musibah atau Ujian ?

Foto Camat Baru dan Camat Lama Kecamatan Kertajati 2019


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita selaku umat Islam (Orang Muslim) akan selalu dihadapkan kepada  berbagai persoalam hidup dan  kehidupan, mungkin terkadang ada persoalan atau  masalah yang kita dapat atasi, tetapi banyak pula masalah atau pesoaalan yang kita tidak mampu pecahkan. Adapun yang menjadi permasalahannya adalah Mampukah kita menghadapi persoalan tersebut ?

Kita selaku umat Muslim mestinya harus mampu dan tegar didalam menghadapi berbagai macam peliknya persoalan hidup dan kehidupan ini. Sebab paling tidak ada empat hal yang harus kita hadapi yaitu : Kalau kita tidak taat mungkin kita akan maksiat, dan kalau kita tidak dapat ni’mat mungkin kita akan dapat musibah.  Sebagai seorang Muslim kita harus dapat menentukan sikap memilih salah satu dari empat dengan melakukan empat kewajiban :

1.Kewajiban bagi Orang yang Taat agar selalu Ikhlas
Kalau kapasitas kita sebagai orang yang selalu ta’at  beragama maka jadikanlah Niat  karena Allah SWT. Sebagai landasan pijakan didalam menjalankan hidup dan kehidupan ini, karena dengan Ikhlas ini akan berbuah pahala dan pertolongan dari Allah SWT. Dalam menghadapi berbagai persoalan. Hadits Rasulullah berbunyi yang artinya adalah :
Sesungguhnya segala amal harus disertrai niat, dan sesungguhnya pahala tiap manusia bergantung kepada apa yang diniatinya.” ( HR. Bukhari-Muslim)

2.Kewajiban bagi Orang yang Ma’siat agar segera Tobat
Orang yang baik itu bukan orang yang sedikitpun tidak memiliki cacad atau tidak pernah salah tetapi  orang yang baik itu adalah orang yang apabila ia berbuat dosa segera bertobat dengan tidak akan melakukannya dan mengulanginya lagi
Salah satunya adalah dengan kita memperbanyak kalimah “ Istigfar” Dari Ibnu Umar, Nabi SAW. Bersabda :
“ Sungguh, Allah menerima taubat manusia, sepanjang ia belum sakaratul maut”. ( dari Mashabih )

3.Kewajiban bagi Orang yang mendapatkan Ni’mat  agar selalu bersyukur
Syukur adalah menerima atas ni’mat Allah yang telah diterima oleh kita,salah satunya paling tidak dengan lisan kita mengucapkan terima kasih melalui ucapan Al-hamdulillah, dan tingkah kita dengan tidak meninggalkan sholat lima waktu. Ada tiga hal ni’mat yang diharapkan manusia dan perlu kita syukuri :
1.Ni’mat Harta benda yaitu syukurannya dengan memperbanyak Sodaqoh
2.Ni’mat Ilmu yaitu syukurannya dengan mengamalkannya
3,Ni’mat Pangkat dan Kedudukan syukurannya dengan tidak menyalah gunakan  kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Ingat Pesan Allah dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7. intinya adalah barangsiapa pandai bersyukur  maka Allah akan terus menambahnya.

4.Kewajiban bagi Orang yang mendapatkan Musibah  agar selalu Sabar
Sebagai Manusia tentu tidak akan selamanya berada pada titik kenimatan atau kebahagiaan, tapi satu waktu manusia akan dihadapkan kepada sebuah tantangan, rintangan dan cobaan yang bermacam-macam sesuai dengan kapasitas dan keahliannya. Maka sebagai mahluk yang bernama manusia alangkah baiknya jika kita dihadapkan kepada musibah itu adalah belaku Sabar  Dan dalam sabar kita dituntut untuk melakukan dua hal penting :
1.  Berusaha Bathiniyah yaitu berdo’a dengan sungguh-sungguh agar Allah segera mengangkat bencana itu.
2.  Berusaha Lahiriyah yaitu dengan melakukan kerja keras agar segera terhindar dari musibah dan cobaan.
   Perlu diingat bahwa sabar itu ada tiga macam :
1. Sabar dalam menghadapi Musibah, pahalanya 300 derajat dari Allah
2.  Sabar dalam menjalankan taat dan ibadah, pahalanya 600 derajat dari Allah
3.   Sabar dalam mengekang laku ma’siat, pahalanya 900 derajat dari Allah
Jadi Sikap orang Muslim harus selalu Oftimis (yakin /  pasti ) didalam menghadapi peliknya masalah hidup dan kehidupan ini, jangan ada kata menyerah, maju terus pantang mundur mental baja agar hidup lebih baik dan selalu luar biasa. Dengan selalu mengarap ridho Allah Swt. 
Oleh karena itu Setiap orang yang hidup di alam dunia dan sehat akalnya, tentu hidupnya ingin selamat dari berbagai macam bahaya, ingin bahagia, ingin aman, ingin tentram, ingin subur dan juga makmur.   
         Tujuan akhir kita  adalah untuk mencapai keridlon Allah swt. Dengan melaksanakan syari’at-Nya di muka bumi ini, sebagai pedoman hidup individual (perseorangan), hidup berkeluarga, maupun hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Agar hidup ini sesuai dengan syari’ah, maka dalam kehidupan harus terlaksana nilai-nilai keadilan, kemaslahatan, mengandung rahmat dan hikmah.
         Untuk itu Imam As-Syatibi telah melakukan Istiqra (penelitian) yang digali dari al-qur’an maupun sunnah, yang menyimpulkan tujuan hukum Islam (Maqashid al-syari’ah) di dunia ada lima hal, yang dikenal dengan Al-maqashid al-khamsah yaitu :
1.    Hifdz Al-Din (Memelihara Agama)
   yang dimaksud dengan agama di sini adalah  agama dalam arti sempit  (ibadah mahdhah)yaitu hubungan manusia dengan Allah swt. Termasuk didalamnya aturan tentang syahadat, shalat, zakat, puasa, haji dan aturan lainnya. Jelasnya Hablum minallah.
2.     Hifdz  Al-Nafs (Memelihara diri ). 
  Termasuk didalamnya larangan membunuh diri sendiri dan membunuh orang lain, larangan menghina dan lain sebagainya.
3.     Hifdz Al-Nasl /irdl( Memelihara keturunan dan kehormatan ) 
       Seperti aturan-aturan  tentang pernikahan, larangan perzinahan dan lain-lain.
4.    Hifdz Al-Mal ( Memelihara harta). 
      Termasuk bagian ini kewajiban kasb al-halal, larangan mencuri dan mengasab harta orang, larangan  masang tonel, judi  dan lain-lainnya.
5.    HifdzAl-Aql(memeliharaAkal). 
     Termasuk di  dalamnya  larangan minum-minuman keras. Semoga bermanfaat untuk kita renungkan dan membuahkan  kesadaran yang mendalam! Amiin.

Oleh : Odong Abdurrahman, S.Pd.I, S.Pd

(Ketua Yayasan Nurussyahid Bantarjati - Kertajati)
Share:

2019/11/18

MA Nurussyahid Kertajati Biasakan dengan Pendidikan Karakter biarkan Anak Belajar Dari Pengalaman dalam Kehidupannya !

Foto Saat Pecapa MA Nurussyahid Kertajati di Curug Sempong 


Karakter bangsa diperlukan individu-individu yang memiliki karakter. Oleh karena itu, dalam upaya pembangunan karakter diperlukan usaha yang sungguh-sungguh. untuk membangun karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan empat bagian, yakni:

1. Karakter yang bersumber dari olah hati, antara lain: Beriman, bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib,. taat aturan, bertanggungjawab, berempati, beraniambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban dan berjiwa patriotik.
2. Karakter yang bersumber dari olah pikir, anatara lain: Cerdas, kritis, kreatif, inofatif, selalu ingin tahu dan produktif ( selalu ingin menghasilkan sesuatu)
3. Karakter yang bersumber dari olah raga, anatara lain: bersih, sportif, tangguh, handal, berdaya tahan, bersahabat, ceria, cinta damai dan gigih.
4. Karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa, antara lain: kemanusiaan, saling menghargai, gotong royong, kebersamaan, ramah, hormat, toleransi, nasionalis, peduli, dinamis, kerja keras dan etos kerja. 

     Pembentukan karakter juga dipengaruhi oleh bagaiman cara komunikasi dan interaksi yang diterapkan oleh orang tua, pendidik (guru) dan masyarakat kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. dari cara yang diterapkan, maka anak akan belajar dari kehidupannya:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,maka ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia bejar meneruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, 

maka ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan 
Share:

HUMOR SUFI " SIDI ABU NAWAS DALAM CERITA MASALAH LIBERAL"



LIBERAL
            Abu Nawas adalah seorang Ulama “nyleneh” yang sangat akrab dengan pusat kekuasaan Kholifah Harun al-Rasyid di Bagdad, satu dari pimpinan Daulah Bani Abasiyah. Kritik dan pendapat-pendapatnya – menjadi rujukan Kholifah dalam menentukan kebijakan kenegaraan. Tapi perilaku Abu Nawas sering aneh-aneh dan tidak bisa difahami kebanyakan orang.
            Syahdan. Suatu hari Abu Nawas berpidato di hadapan orang banyak dikeramaian kota. Di situ ia mengumumkan – semacam pernyataan sikap kepada pers pada jaman sekarang  - tiga hal :
-        Bahwa dirinya sekarang membenci kepada yang haq.
-        Bahwa ia juga menyintai fitnah, dan
-        Hingga saat ini  ( waktu pernyataan dikeluarkan), dia lebih kaya dari pada Tuhan.
Pernyataan ini sangat mengagetkat para ulama dan meresahkan masyarakat. Selintas, kalimat-kalimat tersebut menentang arus berpikir yang benar dan murtad secara agama. Maka kejadian tersebut segera dilaporkan kepada Kholifah, lalu Abu Nawas dipanggil. Setelah menghadap, terjadilah dialog sebagaiberikut :
-        Apa betul kamu mengumumkan bahwa kamu benci kepada yang Haq ?
-        Betul paduka. Bahkan paduka juga membenci yang haq,
-        Lo kok bisa. Apa buktinya.
-        Kematian kan haq, alam kubur juga haq, Bukankah paduka tidak senang akan kematian alam kubur, walau itu haq.
-        Betul juga kamu. Tapi pernyataanmu menyintai fitnah itu sangat mengganggu ketentraman masyarakat. Itu bisa menimbulkan permusuhan  dalam masyarakat. Berarti kamu telah berbuat kesalahan yang harus dihukum.
-        Bahkan tuan sendiri kan juga menyintai fitnah apa harus juga dihukum. Bukankah dalam al-Qur’an disebutkan, bahwa anak dan istrimu itu fitnah.
-        O, begitu.
-        Tapi kalau benar kamu menyatakan bahwa lebih kaya dari pada Tuhan, itu takabur dan bertentangan dengan keimanan ?
-        Tidak yang Mulia. Itu kenyataan. Saya mempunyai anak, yang Mulia mempunyai anak, tapi Tuhan tidak.
Kholifah diam sejenak, lalu bertanya :
-        Lalu apa maksud sesungguhnya dari pernyataanmu itu ,

-        Saya ingin mengingatkan tuan untuk tidak melupakan kematian dan alam kuburnya, jangan lupakan Tuhan karena menyintai anak dan istri, serta selalu mematuhi Allah Yang Maha esa. Begitu.
Share:

HUMOR SUFI " SIDI ABU NAWAS DALAM CERITA MEMBALAS PERBUATAN RAJA"



Membalas Perbuatan Raja

Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titan langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas. Apabila mengganti kerugian. inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.

Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan oleh istrinya tidak dimakan karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak. Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. la tiba-tiba tertawa riang.

"Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi." Abu Nawas berkata kepada istri­nya.

"Untuk apa?" tanya istrinya heran.

"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas singkat. Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata,

"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba."

"Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap Baginda kasar.

"Lalat-lalat ini, Tuanku." kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya. "Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba me­ngadukan perlakuan yang tidak adil ini."

"Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?"

"Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Bagin­da sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu." Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menotak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di manapun mereka hinggap.

Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.

Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hing­ga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.

Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya. Dan setelah merasa puas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas. Abu Nawas yang nampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam ter­hadap orang yang mengusiknya.

Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.
Share:

HUMOR SUFI " SIDI ABU NAWAS DALAM CERITA LOLOS DARI MAUT"



Lolos Dari Maut

Karena dianggap hampir membunuh Baginda maka Abu Nawas mendapat celaka. Dengan kekuasaan yang absolut Baginda memerintahkan prajurit-prajuritnya langsung menangkap dan menyeret Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara.

Waktu itu Abu Nawas sedang bekerja di ladang karena musim tanam kentang akan tiba. Ketika para prajurit kerajaan tiba, ia sedang mencangkul. Dan tanpa alasan yang jelas mereka langsung menyeret Abu Nawas sesuai dengan titah Baginda. Abu Nawas tidak berkutik. Kini ia mendekam di dalam penjara.

Beberapa hari lagi kentang-kentang itu harus ditanam. Sedangkan istrinya tidak cukup kuat untuk melakukan pencangkulan. Abu Nawas tahu bahwa tetangga-tetangganya tidak akan bersedia membantu istrinya sebab mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tidak ada yang bisa dilakukan di dalam 'penjara kecuali mencari jalan keluar.

Seperti biasa Abu Nawas tidak bisa tidur dan tidak enak makan. la hanya makan sedikit. Sudah dua hari ia meringkuk di dalam penjara. Wajahnya murung.

Hari ketiga Abu Nawas memanggil seorang pengawal. "Bisakah aku minta tolong kepadamu?" kata Abu Nawas membuka pembicaraan.

"Apa itu?" kata pengawal itu tanpa gairah.

"Aku ingin pinjam pensil dan selembar kertas. Aku ingin menulis surat untuk istriku. Aku harus menyampaikan sebuah rahasia penting yang hanya boleh diketahui oleh istriku saja."

Pengawal itu berpikir sejenak lalu pergi meninggalkan Abu Nawas.

Ternyata pengawal itu merighadap Baginda Raja untuk melapor.

Mendengar laporan dari pengawal, Baginda segera menyediakan apa yang diminta Abu Nawas. Dalam hati, Baginda bergumam mungkin kali ini ia bisa mengalahkan Abu Nawas:

Abu Nawas menulis surat yang berbunyi: "Wahai istriku, janganlah engkau sekali-kali menggali ladang kita karena aku menyembunyikan harta karun dan senjata di situ. Dan tolong jangan bercerita kepada siapa pun."

Tentu saja surat itu dibaca oleh Baginda karena beliau ingin tahu apa sebenarnya rahasia Abu Nawas. Setelah membaca surat itu Baginda merasa puas dan langsung memerintahkan beberapa pekerja istana untuk menggali ladang Abu Nawas. Dengan peralatan yarig dibutuhkan mereka berangkat dan langsung menggali ladang Abu Nawas. Istri Abu Nawas merasa heran. Mungkinkah suaminya minta tolong pada mereka?

Pertanyaan itu tidak terjawab karena mereka kembali ke istana tanpa pamit. Mereka hanya menyerahkan surat Abu Nawas kepadanya.

Lima hari kemudian Abu Nawas menerima surat dari istrinya. Surat itu berbunyi: "Mungkin suratmu dibaca sebelum diserahkan kepadaku. Karena beberapa pekerja istana datang ke sini dua hari yang lalu, mereka menggali seluruh ladang kita. Lalu apa yang harus kukerjakan sekarang?"

Rupanya istrinya Abu Nawas belum mengerti muslihat suaminya. Tetapi dengan bijaksana Abu Nawas membalas: "Sekarang engkau bisa menanam kentang di la­dang tanpa harus menggali, wahai istriku."

Kali ini Baginda tidak bersedia membaca surat Abu Nawas lagi. Bagi.nda makin mengakui keluarbiasaan akal Abu Nawas. Bahkan di dalam penjara pun Abu Nawas masih bisa melakukan pencangkulan.

********

Abu Nawas masih mengeram di penjara. Namun begitu Abu Nawas masih bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan memakai tangan orang lain.

Baginda berpikir. Sejenak kemudian beliau segera memerintahkan sipir penjara untuk membebaskan Abu Nawas. Baginda Raja tidak ingin menanggung resiko yang lebih buruk. Karena akal Abu Nawas tidak bisa ditebak. Bahkan di dalam penjara pun Abu Nawas masih sanggup menyusahkan prang. Keputusan yang dibuat Baginda Raja untuk melepaskan Abu Nawas memang sangat tepat. Karena bila sampai Abu Nawas bertambah sakit hati maka tidak mustahil kesusahan yang akan ditimbulkan akan semakin gawat.

Kini hidung Abu Nawas sudah bisa menghisap udara kebebasan di luar. Istri Abu Nawas menyambut gembira kedatangan suami yang selama ini sangat dirindukan. Abu Nawas juga riang. Apalagi melihat tanaman kentangnya akan membuahkan hasil yang bisa dipetik dalam waktu dekat.

Abu Nawas memang girang bukan kepalang tetapi ia juga merasa gundah. Bagaimana Abu Nawas tidak merasa gundah gulana sebab Baginda sudah tidak lagi memakai perangkap untuk memenjarakan dirinya. Tetapi Baginda Raja langsung memenjarakannya. Maka tidak mustahil bila suatu ketika nanti Baginda langsung menjatuhkan hukuman pancung. Abu Nawas yakin bahwa saat ini Baginda pasti sedang merencanakan sesuatu. Abu Nawas menyiapkan payung untuk menyambut hujan yang akan diciptakan Baginda Raja. Pada hari itu Abu Nawas mengumumkan dirinya sebagai ahli nujum atau tukang ramal nasib.

Sejak membuka praktek ramal-meramal nasib, Abu Nawas sering mendapat panggilan dari orang-orang terkenal. Kini Abu Nawas tidak saja dikenal sebagai orang yang hartdal daiam menciptakan gelak tawa tetapi juga sebagai ahli ramal yang jitu.

Mendengar Abu Nawas mendadak menjadi ahli ra­mal maka Baginda Raja Harun Al Rasyid merasa khawatir. Baginda curiga jangan-jangan Abu Nawas bisa mem-bahayakan kerajaan. Maka tanpa pikir panjang Abu Nawas ditangkap.

Abu Nawas sejak semula yakin Baginda Raja kali ini berniat akan menghabisi riwayatnya. Tetapi Abu Nawas tidak begitu merasa gentar. Mungkin Abu Nawas sudah mempersiapkan tameng.

Setelah beberapa hari meringkuk di dalam penjara, Abu Nawas digiring menuju tempat kematian. Tukang penggal kepala sudah menunggu dengan pedang yang baru diasah. Abu Nawas menghampiri tempat penjagalan dengan amat tenang. Baginda merasa kagum terhadap ketegaran Abu Nawas. Tetapi Baginda juga bertanya-tanya dalam hati mengapa Abu  Nawas begitu tabah menghadapi detik-detik terakhir hidupnya. Ketika algojo sudah siap mengayunkan pedang, Abu Nawas tertawa-tawa sehingga Baginda menangguhkan pemancungan.

Beliau bertanya, "Hai Abu Nawas, apakah engkau tidak merasa ngeri menghadapi pedang algojo?"

"Ngeri Tuanku yang mulia, tetapi hamba juga me­rasa gembira." jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

"Engkau merasa gembira?" tanya Baginda kaget.

"Betul Baginda yang mulia, karena tepat tiga hari setelah kematian hamba, maka Baginda pun akan mangkat menyusul hamba ke Hang lahat, karena hamba tidak bersalah sedikit pun." kata Abu Nawas tetap tenang.

Baginda gemetar mendengar ucapan Abu Nawas. dan tentu saja hukuman pancung dibatalkan.

Abu Nawas digiring kembali ke penjara. Baginda memerintahkan agar Abu Nawas diperlakukan istimewa. Malah Baginda memerintahkan supaya Abu Nawas disuguhi hidangan yang enak-enak. Tetapi Abu Nawas tetap tidak kerasa tinggal di penjara. Abu Nawas berpesan dan setengah mengancam kepada penjaga pen­jara bahwa bila ia terus-menerus mendekam dalam pen­jara ia bisa jatuh sakit atau meninggal Baginda Raja terpaksa membebaskan Abu Nawas setelah mendengar penuturan penjaga penjara.

*****

Cita-cita atau obsesi menghukum Abu Nawas sebenarnya masih bergolak, namun Baginda merasa kehabisan akal untuk menjebak Abu Nawas.

Seorang penasihat kerajaan kepercayaan Baginda Raja menyarankan agar Baginda memanggil seorang ilmuwan-ulama yang berilmu tinggi untuk menandingi Abu Nawas. Pasti masih ada peluang untuk mencari kelemahan Abu Nawas. Menjebak pencuri harus dengan pencuri.Dan ulama dengan ulama. Baginda menerima usul yang cemerlang itu dengan hati bulat.

Setelah ulama yang berilmu tinggi berhasil ditemukan, Baginda Raja menanyakan cara terbaik menjerat Abu Nawas. Ulama itu memberi tahu cara-cara yang pa­ling jitu kepada Baginda Raja. Baginda Raja manggut-manggut setuju. Wajah Baginda tidak lagi murung. Apalagi ulama itu menegaskan bahwa ramalan Abu Nawas tentang takdir kematian Baginda Raja sama sekali tidak mempunyai dasar yang kuat. Tiada seorang pun manusia yang tahu kapan dan di bumi mana ia akan mati apalagi tentang ajal orang lain.

Ulama andalan Baginda Raja mulai mengadakan persiapan seperlunya untuk memberikan pukulan fatal bagi Abu Nawas. Siasat pun dijalankan sesuai rencana. Abu Nawas terjerembab ke lubang siasat sang ulama. Abu Nawas melakukan kesalahan yang bisa menghantarnya ke tiang gantungan atau tempat pemancungan.

Benarlah peribahasa yang berbunyi sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat akan terpeleset. Kini, Abu Nawas benar-benar mati kutu. Sebentar lagi ia akan dihukum mati karena jebakan sang ilmuwan-ulama.

Benarkah Abu Nawas sudah keok?

Kita lihat saja nanti.

Banyak orang yang merasa simpati atas nasib Abu Nawas, terutama orang-orang miskin dan tertindas yang pernah ditolongnya. Namun derai air mata para pecinta dan pengagum Abu Nawas tak akan mampu menghentikan hukuman mati yang akan dijatuhkan.

Baginda Raja Harun Al Rasyid benar-benar menikmati kernenangannya. Belum pernah Baginda terlihat seriang sekarang.

Keyakinan orang banyak bertambah mantap. Hanya sat orang yang tetap tidak yakin bahwa hidup Abu Nawas aka berakhir setragis itu, yaitu istri Abu Nawas. Bukankah Alia Azza Wa Jalla lebih dekat daripada urat leher. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Gagah. Dan kematian adalah mutlak urusan-Nya. Semakin dekat hukuman mati bagi Abu Nawas. Orang banyak semakin resah. Tetapi bagi Abu Nawas malah sebaliknya. Semakin dekat hukuman bagi dirinya, se­makin tegar hatinya.

Baginda Raja tahu bahwa ketenangan yang ditampilkan Abu Nawas hanyalah merupakan bagian dari tipu dayanya. Tetapi Baginda Raja telah bersumpah pada diri sendiri bahwa beliau tidak akan terkecoh untuk kedua kalinya. Sebaliknya Abu Nawas juga yakin, selama nyawa masih melekat maka harapan akan terus menyertainya. Tuhan tidak mungkin menciptakan alam semesta ini tanpa ditaburi harapan-harapan yang menjanjikan. Bahkan dalam keadaan yang bagaimanapun gawatnya.

Keyakinan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Baginda Raja dan ulama itu. Seketika suasana menjadi  hening, sewaktu Bagin Raja memberi sambutan singkattentang akan dilaksanakan hukuman mati atas diri terpidana mati Abu Nawas. Kemudian tanpa memperpanjang waktu lagi Baginda Raja menanyakan permintaan terakhir Abu Nawas. Dan pertanyaan inilah yang paling dinanti-nantikan Abu Nawas.

"Adakah permintaan yang terakhir"

"Ada Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas singkat.

"Sebutkan." kata Baginda.

"Sudilah kiranya hamba diperkenankan memilih hu­kuman mati yang hamba anggap cocok wahai Baginda yang mulia." pinta Abu Nawas.

"Baiklah." kata Baginda menyetujui permintaan Abu Nawas..

"Paduka yang mulia, yang hamba pinta adalah bila pilihan hamba benar hamba bersedia dihukum pancung, tetapi jika pilihan hamba dianggap salah maka hamba dihukum gantung saja." kata Abu Nawas memohon.

"Engkau memang orang yang aneh. Dalam saat-saat yang amat genting pun engkau masih sempat bersenda gurau. Tetapi ketahuilah bagiku segala tipu muslihatmu hari ini tak akan bisa membawamu kemana-mana." kata Baginda sambil tertawa.


"Hamba tidak bersenda gurau Paduka yang mulia." kata Abu Nawas bersungguh-sungguh.

Baginda makin terpingkal-pingkal. Belum selesai Baginda Raja tertawa-tawa, Abu Nawas berteriak dengan nyaring.

"Hamba minta dihukum pancung!"

Semua yang hadir kaget. Orang banyak belum mengerti mengapa Abu Nawas membuat keputusan begitu. Tetapi kecerdasan otak Baginda Raja menangkap sesuatu yang lain. Sehingga tawa Baginda  yang semula berderai-derai mendadak terhenti. Kening Baginda berkenyit mendengar ucapan Abu Nawas. Baginda Raja ti­dak berani menarik kata-katanya karena disaksikan oleh ribuan rakyatnya.

Beliau sudah terlanjur mengabulkan Abu Nawas menentukan hukuman mati yang paling cocok untuk dirinya.

Kini kesempatan Abu Nawas membela diri.

"Baginda yang mulia, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung. Kalau pilihan hamba benar maka hamba dihukum gantung. Tetapi di manakah letak kesalahan pilihan hamba sehingga hamba hams dihukum gantung. Padahal hamba telah memilih hukuman pancung?"

Olah kata Abu Nawas memaksa Baginda Raja dan ulama itu tercengang. Benar-benar luar biasa otak Abu Nawas ini. Rasanya tidak ada lagi manusia pintar selain Abu Nawas di negeri Baghdad ini.

"Abu Nawas aku mengampunimu, tapi sekarang jawablah pertanyaanku ini. Berapa banyakkah bintang  di langit?"

"Oh, gampang sekali Tuanku."

"Iya, tapi berapa, seratus juta, seratus milyar?" tanya Baginda.

"Bukan Tuanku, cuma sebanyak pasir di pantai."

"Kau ini.... bagaimana bisa orang menghitung pasir di pantai?"

"Bagaimana pula orang bisa menghitung bintang di langit?"

"Ha ha ha ha ha...! Kau memang penggeli hati.

Kau adalah pelipur laraku. Abu Nawas mulai sekarang jangan segan-segan, sering-seringlah datang ke istanaku. Aku ingin selalu mendengar lelucon-leluconmu yang baru!"

"Siap Baginda        !"

oo000oo
Share:

Translate

RAPOT DIGITAL MADRASAH (RDM)

KALENDER MA NURUSSYAHID

Calendar Widget by CalendarLabs

NU ONLINE

NPSN MA NURUSSYAHID

WAWASAN KEISLAMAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA

LOKASI MA NURUSSYAHID


Foto Kepala MA Nurussyahid Kertajati dengan Gus Sauqi Putra Abah KH. Ma'ruf Amin (Wakil Presiden RI)

KEPALA MA BERSAMA PARA PURNAWIRAWAN TNI PADA ACARA MUNAJAT RAJAB

SANTRI MA NURUSSYAHID KERTAJATI PADA ACARA MUNAJAT RAJAB 1440 H

KUNJUNGAN SULTAN SEPUH KE YAYASAN